Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Translate

CERPEN "AYU"

Sabtu, 17 Maret 2012


Dilarang meng-copas! Tolong hargai karya milik orang lain!Jika ingin copas cantumkan alamat blog ane!!!!




60 tahun sudah umurnya, namun masih saja orang tua renta itu berjualan. Mbah Darsih, begitulah orang sering memanggilnya. Panasnya matahari, dinginnya malam, derasnya hujan tak menyurutkan niatnya untuk berjualan. Itu semua Ia lakukan hanya untuk sesuap nasi. Dengan setia Ia menanti pembeli demi pembeli walau terkadang banyak pembeli yang cerewet mengeluhkan dagangan  Mbah Darsih. Tidakkah mereka kasihan dengannya? Dimanakah anak-anak Mbah Darsih? Mengapa orang setua itu masih mencari nafkah, bukankah seharusnya Ia bersantai menikmati masa tuanya? Lirih hatiku melihatnya.
Tak lama kemudian datanglah seorang gadis perempuan berparas cantik, berambut panjang, membawa dua bungkus nasi. Ternyata Ia cucu Mbah Darsih. Gadis itu bernama Ayu. Gadis itu tampak senang lalu duduk di samping Mbah Darsih dan berkata, “Mbah ini nasinya. Harganya lima ribu satu bungkus. Ini uang kembaliannya.” Mbah Darsih tersenyum dan berkata, “Ndak usah nduk, kembaliannya buat kamu saja, buat uang saku untuk sekolah besok nduk. Belajar yang rajin ya nduk biar jadi orang sukses. Biar bisa beli mobil seperti orang-orang.” Ayu tersenyum dan meyakinkan neneknya, “Mbah gak usah khawatir, Ayu pasti rajin belajar Mbah.” Mereka berdua tersenyum saling bertatap-tatapan. Lalu Mbah Darsih memeluk Ayu dan berkata, “Ayu memang cucu yang paling baik di dunia ini.” Ayu hanya bisa tersenyum geli.
Malam pun tiba saatnya Ayu dan neneknya pulang untuk beristirahat setelah seharian berjualan kue. Dari tempat berjualan mereka berjalan kaki ke tempat peristirahatan mereka. Tempat dimana mereka terlindungi dan berbagi keluh kesah. Dengan wajah letih mereka berdua tetap berjalan dan terus berjalan hingga sampai di tempat peristirahatan mereka. Tempat itu dalah rumah. Ya, rumah! Rumah kecil yang tampak tak layak tinggal itulah rumah mereka. Meskipun kecil namun penuh kasih sayang di dalamnya.
Sesampainya di rumah Ayu langsung mandi dan belajar ditemani oleh  neneknya. Dalam kegelapan, ditemani lampu sentir, itu lah hidup mereka disaat malam tiba.
“Kasihan kamu nduk, masih kecil sudah jadi yatim piatu. Tega sekali ibumu meninggalkan mu. Sedangkan ayahmu, manusia bejat itu memang pantas mati, tak ku sangka punya mantu pemakai narkoba seperti dia. Kamu jangan seperti kedua orang tua mu ya nduk! Kamu harus jadi orang yang tegar dan bertanggung jawab.” Kata Mbah Darsih kepada Ayu sambil menangis.
“Mbah gak usah khawatir. Ayu akan selalu ingat nasehat Mbah. Ayu janji.” Kata ayu sambil tersenyum.
“Ya sudahlah nduk, mbah mau pergi tidur dulu. Habis belajar langsung tidur nduk!” kata Mbah Darsih (bangun dari tempat duduknya dan pergi ke tempat tidur).
Entahlah apa memang sudah takdir atau hanya kesialan hidup belaka. Inginnya Mbah Darsih tidur sementara waktu namun tak disangka Tuhan berkehendak lain. Nenek tua itu meninggal di usia 60 tahun. Sungguh mengejutkan dan tak pernah terpikir oleh Ayu neneknya akan meninggalkannya. Ayu hanya bisa menangis dan menangis. Semua tetangganya sedih melihat keadaan Ayu, namun apa yang bisa mereka perbuat, mereka juga orang susah tak mapu membantu Ayu dengan maksimal.
Saat pemakaman neneknya Ayu tetap menangis. Ia mencoba untuk tegar namun Ia tak mampu. Sembari menaburkan bunga di makam neneknya Ia berkata, “Kenapa mbah meninggalkan Ayu sendirian ? Ayu ingin ikut sama mbah. Buat apa Ayu hidup sendirian disini mbah?” Saat itu ada wali kelas Ayu di sampingnya dan berkata, “Kamu tidak boleh bilang seperti itu Yuk! Mungkin ini memang sudah takdir dari yang kuasa. Ibu yakin kamu pasti bisa menghadapi cobaan ini.” Ayu terdiam sambil mengusap air matanya. Dalam hati Ia berkata , “Ini bukan akhir dari segalanya. Iya Ayu harus bisa mewujudkan impian Mbah supaya mbah senang di alam sana.” Lalu mereka berdua pergi meninggalkan makam Mbah Darsih.
Kini Ayu menyambung hidup dengan berjualan kue dan untuk biaya sekolah Ayu dari dulu mendapatkan bea siswa karena prestasi belajarnya yang membanggakan. Pagi hari Ia sekolah, siang hari Ia membuat kue, kemudian sore hingga malam Ia berjualan kue. Lalu kapankah Ia mendapatkan waktu untuk belajar? Sungguh anak yang pintar, pagi-pagi buta Ia bangun untuk belajar. Betapa beratnya hidup yang di hadapi oleh anak gadis berusia 15  tahun yang baru duduk di bangku kelas 3 SMP ini. Hati siapapun pasti menangis melihatnya.
Tak cukup hanya cobaan itu yang Ia hadapi. Kini Ia kehilangan tempat berjualannya dan tempat tinggalnya karena digusur. Akhirnya Ia pun berakhir di panti asuhan.  Bukannya duka yang Ia dapatkan melainkan kebahagiaan karena mendapat tempat tinggal yang nyaman dan teman-teman baru yang sangat baik hati. Di sana Ia menemukan kehidupan barunya dan berusaha tidak lagi di bayangi oleh suramnya nasib yang Ia dapatkan.
 Setelah lulus SMA Ayu memutuskan untuk pergi dari panti asuhan tersebut. Ia pun berpamitan dengan adik-adiknya di sana dan Ibu penjaga panti.
“Bu, terimakasih atas bantuan yang ibu berikan kepada saya. Tanpa bantuan ibu mungkin saya sudah mati kelaparan di jalanan. Sudah cukup banyak saya merepotkan ibu di sini, sekarang saya ingin meninggalkan panti asuhan ini.” Kata Ayu kepada ibu penjaga panti asuhan tersebut.
“Lalu kamu mau tinggal dimana nak? Kamu tidak pernah merepotkan ibu.” Sahut ibu penjga panti kepada Ayu.
“Saya akan ngekos bu. Saya juga akan kerja sambil kuliah di falkutas kebidanan. Sekali lagi terima kasih ya bu.”
“Baiklah nak, kamu boleh pergi kalau ada sesuatu yang kamu perlukan jangan ragu datanglah ke sini.”
“Iya bu saya mohon pamit dulu ya bu,”
Lalu Ayupun pergi meninggalkan panti asuhan tersebut. Dengan berbekal sedikit uang Ia pergi mencari tempat kos-kosan yang murah.
 Hari demi hari Ia lalui dengan penuh  semangat hingga kemudian ada seorang teman di kampus Ayu yang iri dengan prestasi Ayu, kemudian teman Ayu tersebut menjerumuskan Ayu ke dunia kenakalan remaja. Sex bebas, narkoba sudah menjadi sahabatnya saat ini. Semua perilakunya sudah jauh dari batas kewajaran. Sungguh tak pernah di sangka. Gadis lugu seperti Ayu harus terjerumus di dalam dunia kegelapan seperti itu. Kuliah yang hanya tinggal 2 semester Ia tinggalkan begitu saja.
Hingga kini Ayu merasakan akibat dari perbuatannya. Ia terkena penyakit yang mematikan. Penyakit AIDS, begitulah orang menyebutnya. Sungguh tak pernah Ia pikirkan ini semua. Ia sangat menyesal. Namun semua ini tidak membuat Ia menyerah. Dengan sisa hidupnya kini Ia memanfaatkan waktunya untuk berbuat yang lebih baik. Ia lanjutkan kuliahnya.
Setahun berlalu. Ayu tidak pernah memeriksakan keadaannya ke dokter selama setahun ini. Kini Ia ingin memeriksakan keadaannya. Sungguh keajaiban ternyata penyakit tersebut hilang dari tubuh Ayu. Ayu sadar mungkin dulu itu adalah teguran dari Tuhan.
Kini Ayu melanjutkan hidupnya dengan sangat bahagia hingga Ia mampu menyelesaikan kuliahnya dan berhasil menjadi bidan yang professional. Ia mampu membangun klinik bersalin dengan kerja keras yang Ia lakukan selama ini. Iapun mampu membeli mobil seperti yang diimpikan oleh neneknya. Tersenyum bangga Ia melihat mobil itu. Seorang pria mendekatinya. Rupanya itu adalah suami Ayu. Pria itu bernama Rizal. Rizal adalah seorang pengelola hotel yang terkenal. Ia pria yang baik dan sangat menyayangi Ayu. Sungguh beruntung Ayu mendapatkan pria seperti Rizal.
Suatu hari saat Ayu melayat ke makam neneknya. Tampak dari kejauhan seorang wanita bersama suaminya berada di makam Mbah Darsih. Wanita itu menangis di depan makam mbah Darsih. Ayu terkejut ternyata wanita itu adalah ibunya. Ayu tidak pernah lupa dengan wajah ibunya.
“ibu benarkah kamu ibuku? Sedang apa ibu di sini? Tanya Ayu penasaran.
Lalu wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Ayu sembari berkata, “Ayu maafkan Ibu”

CERPEN BAHASA BALI "LACUR"

Jumat, 16 Maret 2012

Dilarang meng-copas! Tolong hargai karya milik orang lain!Jika ingin copas cantumkan alamat blog ane!!!!



Anakѐ tua anѐ matuuh nem dasa tiban ento maadan Dong Darsih. Sesai Ia medagang canang di sisin rurungѐ. Uling dagangannѐ ento Ia ngidang manyekolahang cucunnyanѐ anѐ maadan Luh Yayuk, suba matuuh limolas tiban, enu negak  ring bangku kelas 3 SMP. Luh Yayuk sampun ka tinggalin mati olih bapannyanѐ tur ka tinggalin ngantѐn olih mѐmѐnnѐ. Ento ngeranayang Luh Yayuk ka rawat olih dadongnѐ. Yadiastun Luh Yayuk ngelah Mѐk Ngah anѐ nongos di Badung nanging Ia tusing taen nyak yѐning orahina nongos ngajak Mѐk Ngahnѐ di Badung, enu luungan nongos ngajak dadongnѐ katimbang nongos ngajak Mѐk Ngahnѐ konѐ.
Kangin kauh Dong Darsih ngalih gaѐ mangda ngidang ngidupin cucunnyanѐ. Panes bateng, dinginnѐ peteng tusing taѐn ngaѐnang Ia nyerah nyalanang idupe anѐ lacur enѐ. Pedalem pisan nasib Dong Darsihѐ, nanging aget Dong Darsih ngelah cucu cara Luh Yayuk anѐ setata nulungin Dong Darsih medagang.
Ri sedek Dong Darsihѐ medagang teka Luh Yayuk ngemel busung sambilanga megending-gending lagu pop Bali, lantas kecapatin olih Dong Darsih, “Kenken luh, mael jani ajin busungѐ?” Luh Yayuk suud magending laut nyautin petakѐn dadongnyanѐ, “Bih mael ajan Dong. Telung dasa tali jani apesel. Miriban krana suba paek rahinan purnamanѐ.” Makesyab dadongnѐ, “Aduh kѐnkѐnang jani ngadep canang lamun mael busunge.” Lantas kesautin olih Luh Yayuk, “Yѐn mael busungѐ maelang masih ngadep canangѐ. Ajin bunga masih menѐk jani Dong, akilone petang dasa tali rupiah jani.” Dadongnѐ kitak kituk.
“Yѐn mael canangѐ tusing ada anakѐ anѐ  meli canang nyanan. Sebet atinѐ baana.” Kѐto dadongnѐ nuturang kenehnѐ.
“Tenang dogѐn Dong, pasti anakѐ anѐ mablanja lakar ngerti yѐning jani canangѐ ngemaelang.” Luh Yayuk mesaut banban.
Dadongnѐ mendep tur makenyem tusing mesaut buin.
“Yѐh saja. Engsap nguliang susuknѐ. Nѐ susuk belin busungѐ dong.” Kѐto Luh Yayuk ngorahang sambilanga ngemaang susuknѐ tekѐn Dong Darsih.
“Mimih cucun dadongѐ enѐ, enu cenik suba melajah korupsi.” Pesaut dadongnѐ nyandѐnin.
“Sing ja keto dong. Anakѐ tiang engsap tuni.” Pesaut Luh Yayuk sambil nahenang eleknѐ.
          Dadongnѐ kedѐk, kendel pisan ningalin cucunnѐ anѐ nahenang elek buka ka kѐto. Lantas dadongnѐ mesaut, “Nѐ susuknѐ cening dogѐn nyuang, anggon bekel masuk bѐnjang.”
          “Yѐѐ… kѐto nakѐ uling tuni dong. Suksma, dadong tiangѐ anѐ paling jegѐg.” Pesaut Luh Yayuk. Demen pisan atinѐ. Dadongnѐ tuah kedѐk.
          “Selegang melajah nah Luh! Mangda ngidang dadi anak suksѐs. Mangda tusing pragat dadi dagang canang buka dadong, mangda ngidang meli mobil cara anakѐ lѐn.” Kѐto Dadongnѐ nuturang.
          “Aduh dadong sampunang jejeh, tiang pastika lakar seleg melajah. Nyanan yѐning iraga suba ngelah mobil lakar ka ajak tiang dadong matirta yatra ka pura-pura anѐ ada di Bali.”
          “Yѐh saja to luh?” Dadongnѐ nakonang.
          “Saja dong.” Luh Yayuk nyekenang dadongnѐ.
          “Liang pisan atin dadong ngelah cucu anѐ becik, dueg tur jegeg buka cening.” Kѐto dadongnѐ nyautin sambilanga ngelut Luh Yayuk laut make dadua saling makenyem.
          Suryanѐ suba lingsir, sube minggek kauh, masan Luh Yayuk lan dadongnyanѐ wusan madagang. Ajaka dadua laut mulih, mulih ka umahnѐ anѐ cupet tur buuk pisan. Umah anѐ tusing luung katongosin nanging liu olas asih ring tengahnyanѐ.
          Ri sedek mejalan mulih Dong Darsih ngajak Luh Yayuk simpang ka dagang baju, lakar meliang Luh Yayuk baju baru. Demen pisan atin Luh Yayukѐ belianga baju baru teken dadongnyane.
          “Anѐ encѐn lakar ka beli Luh?” Dong Darsih matakѐn tekѐn cucunnyanѐ.
          “Anѐ enѐ dogѐn dong. Warnannѐ luung tur harganѐ masih tusing mael.” Pesaut Luh Yayuk sambil ngisiang baju anѐ mawarna pelung misi gambar bonѐka, luung pisan.
          Lantas dadongnѐ meliang Luh Yayuk baju anѐ ka pilih olih Luh Yayuk laut majalan manjus ka tukadѐ malu. Di tukade Ia lan dadongnѐ manjus saling kasiramin. Sasampunѐ suud manjus mara Luh Yayuk lan dadongnyanѐ majalan mulih ka umahnѐ.
          Sasampunѐ teked jumah Luh Yayuk lantas mebanten, laut melajah katimpalin olih dadongnѐ. Dadongnѐ bengong ningalin Luh Yayuk melajah. Makelo dadongnѐ bengong kanti ngetѐl yѐh matannѐ.
          “Pedalem pisan cening enu cenik sube kakalahin olih rerama. Lacur dadong ngelah pianak buka bapan ceningѐ, tusing taѐn inget tekѐn somah kanti kakalahin ngantѐn tekѐn somahnѐ, sesai ngamuk yѐning tusing maan ngamah narkoba. Pamuputnѐ masih payu Bapan ceningѐ mati ulian narkoba.” Kѐto dadongnѐ Luh Yayuk maseselan.
          “Dadong sampunang manyesel buka ka kѐnѐ, tiang dogѐn tusing taѐn nyesel ngelah rerama cara ka kѐto.” Pesaut Luh Yayuk sambilanga ngusapin yѐh paningalan dadongnѐ.
          “Eda pesan cening dadi manusa cara reraman ceningѐ.” Kѐto dadongnѐ mabesen tekѐn Luh Yayuk.
          “Dadong sampunang sumandangsaya tiang lakar inget tekѐn pebesen dadong.” Luh Yayuk mesaut nyekenang dadongnѐ.
          Dadongnѐ mendep tusing nyidang mesaut buin,laut bangun majalan ka tongos pasarѐannѐ. Yѐh paningalanѐ tusing ngidang kaandeg. Suba  kasadsadin  nanging tusing suud-suud ngetѐl yѐh paningalannѐ.
          Bѐnjang pasemengannѐ Luh Yayuk gelurina olih pisaganѐ, laut Luh Yayuk bangun uling pasarѐannѐ. Tepukina dadongnѐ suba tusing ada di pasareannѐ. Enggal-enggal Luh Yayuk pesu uling umahne, saget tepukina suba liu anakѐ di arepan umahnѐ. Iseng Ia nakonang anakѐ ngudiang ramѐ-ramѐ ento.
          “Mek kenken to ngudiang ramѐ-ramѐ?” Kѐto Luh Yayuk matakѐn tekѐn pisaganѐ.
          “Mai Luh Ka rumah sakit jani. Tuni I dadong ulung uling  punyan jepunѐ dugas ngalap bunga.” Kѐto pisaganѐ ngorahang.
Loading...

Pengikut

 

Follow by Email

Cari Blog Ini

Memuat...
Loading...

A ROCKET TO THE MOON

RIHANNA

ONE DIRECTION

FUN

BRUNO MARS

TWENTY ONE PILOTS

PARAMORE